Langsung ke konten utama

Bertobat di Kampung Tobat Santrendelik


Sejak dahulu hingga sekarang, kita sering kali beranggapan bahwa pesantren identik dengan kehidupannya yang agamais, memakai sarung, mengenakan pakaian muslim, dan berpeci dalam kegiatan sehari-hari. Namun, pesantren yang satu ini berbeda dan unik. Terletak di Desa Kalialang, Sukorejo, Gunungpati, Kota Semarang terdapat sebuah Pesantren yang mengusung tema kontemporer dan dibalut dengan kehidupan modernisme, bernama Santrendelik Kampung Tobat.
Nama Santrendelik berasal dari lokasi pesantren tersebut yang dalam istilah bahasa Jawa disebut “ndelik” yang memiliki arti “tersembunyi”. Dilihat dari lokasinya, Santrendelik berada dibalik rimbunnya pohon jati dan berada ditengah-tengah kampung seakan pesantren ini tersembunyi dan tidak diketauhi oleh orang banyak.
Malam itu setelah berbuka puasa di hari ke-18 Ramadan atau Kamis (23/5), saya dan Muhammad Adam Khatamy berkesempatan mengunjungi Santrendelik Kampung Tobat untuk menghadiri Nongkrong Tobat. Barangkali selama perjalanan, pohon-pohon yang tumbuh menghiasi jalanan di Gunungpati mendoakan keberangkatan kami karena niat baik melakukan perjalanan untuk sesuatu yang baik.
Sesamapainya di Santrendelik Kampung Tobat, saya sedikit terkejut, ternyata tempat ini dikelilingi pohon jati yang tinggi dan bernuansa sunyi dengan bantuan cahaya lampu yang menghiasi.  Jika bukan di bulan Ramadan, Nongkrong Tobat dilaksanakan setiap Kamis pukul 19:00 sampai 22:00 WIB, karena kedatangan kami pas di bulan Ramadan, Nongkrong Tobat dilaksanakan setelah salat Tarawih sampai pukul 23:00 WIB. Kami pun turun dari motor kemudian menuju tempat salat untuk menunaikan salat Isya dan salat Tarawih yang diteruskan juga dengan salat Witir.
Setelah salat selesai, silih berganti berdatangan para pemuda-pemudi di Kampung Tobat. Kebanyakan adalah dari mahasiswa/i Unnes, beberapa juga ada yang dari mahasiswa/i Unwahas, mahasiswa/i UIN Walisongo, dan pemuda-pemudi sekitar.
Inilah keunikan Santrendelik, hadirin kajian tidak dipadati oleh orang-orang lanjut usia atau ibu-ibu majelis tertentu tetapi dipadati oleh berbagai kalangan pemuda-pemudi dengan pakaian yang harus islami, mereka boleh menggunakan celana jeans, kemeja atau hanya menggunakan kaos.
 Disediakan pula berbagai snack dan minuman sehingga selain mendengarkan ceramah kita bisa ngopi, ngeteh, guyonan, dan makan gorengan sambil menikmati lagu bergenre Islami serta mendapatkan materi ringan yang pembicara berikan. Tidak hanya komunikasi yang berlangsung dengan satu arah antara pembicara dengan hadirin, diakhir acara ada sesi tanya jawab untuk menemukan solusi atas persoalan iman para hadirin yang dilakukan secara interaktif dengan dibarengi guyonan supaya kaum muda tidak menganggap persoalan agama adalah hal yang kaku dan monoton.
Nongkrong Tobat edisi Ramadan yang dinamakan Nongkrong Tobat spesial Ramadan yaitu ”Ramadan Tuman” (Top Up Iman) sudah diadakan dua kali yang dihadiri tokoh publik diantaranya Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Budayawan Candra Malik, Budayawan dan Penulis Prie GS, Mantan Drumer band Endank Soekamti Ari Hamzah, Ustaz Fahrurrozi, Ustaz Fachrudin Aziz, dll. Pada Nongkrong Tobat kali ini (23/5) adalah Nongkrong Tobat edisi ketiga atau yang terakhir selama di bulan Ramadan.
Nobat edisi ketiga dimulai dengan menyayikan lagu Indonesia Raya, mendengarkan musik bergenre Islami sebelum masuk ke materi. Ketika masuk ke materi pembahasan, seringkali para pendatang dibumbui humor tetapi tetap tidak melupakan materi yang disampaikan.
Nongkrong Tobat edisi terakhir ini kedatangan tamu Ustaz Fachrudin Aziz dan Roni Bodax (Pensiunan Preman) yang bertema “Wajah Iman Berhati Preman” yang berkisah tentang hidayah. Substansi yang diberikan oleh pembicara bermakna bahwa tidak ada yang menjamin sekarang kita berbuat baik, besok akan tetap berbuat baik. Sekarang ibadah, sangat mungkin untuk bermaksiat kemudian dan demikian sebaliknya. Tidak ada yang bisa menjamin keteguhan sebuah hati. Sedangkan manusia boleh saja menilai dan penilaiannya mungkin saja salah. Tapi ada satu penilaian yang sangat akurat, ialah penilaian-Nya.
Di tengah-tengah pembahasan materi, kami berkesempatan bertemu dengan salah satu relawan Santrendelik, Torintawan, dan ngobrollah kami dengannya.
Sejarah Santrendelik
Founder dari Santrendelik adalah Ikhwan. Kejenuhan Ikhwan lima tahun lalu membuat ia ingin bertaubat tetapi saat itu belum ada gerakan yang mewadahi. Beliau ingin ngaji tapi yang tidak memaksakan dirinya, seperti yang lain misalkan ngaji itu harus pakai koko, peci, celana cingkrang, dan pada intinya semua ada identitasnya masing-masing. Di Santrendelik ini, bebas tetapi sopan, tidak harus memakai gamis.
Torintawan mengutarakan bahwa Ikhwan pengin ngaji yang agak bebas, akhirnya dia membuat sendiri acara namanya “Nongkrong Sholeh” di cafe-cafe. Jadi dulu itu bukan namanya “Nongkrong Tobat” akan tetapi “Nongkrong Sholeh”. Karena Nongkrong Sholeh dulu cukup ramai hingga mencapai 50-an orang, ini mengakibatkan berdesak-desakan dan akhirnya mencari tempat lain, setelah mencari-cari tempat, namun ternyata Ayah rekan Ikhwan bernama Agung memiliki sebidang tanah di lokasi yang kini menjadi Santrendelik dan bersedia untuk diwakafkan.
Dan pada akhirnya dinamakan “Santrendelik” yang artinya tersembunyi karena tempatnya yang memang tersembunyi atau nggak kelihatan. Namun jika dikait-kaitkan istilah Ndelik memiliki akronim “Ngandel Marang Sang Kholik” (percaya atau kekeuh pada sang pencipta).
Sasaran utama santrendelik adalah anak muda, dulu lima tahun yang lalu itu belum ada isu atau sesuatu yang mendorong generasi muda untuk belajar agama seperti saat ini marak dengan pelbagai gerakan “hjrah” membuat Ikhwan kemudian mencari konsep yang dimana ngaji itu tidak mengekang anak muda. Anak muda itu tidak suka memikirkan yang dalam-dalam, dan mereka penginnya guyon, ngobrol, diskusi bertukar pikiran.
Tujuan nongkrong tobat adalah membahas yang ringan seperti bagaimana berakhlakul karimah dan terkadang juga membahas yang berat layaknya ilmu tasawuf atau fiqh. Mulanya mengajak sebanyak mungkin orang untuk terlebih dahulu suka dengan ajaran Islam, setelah anak muda suka kemudian yakin untuk mempunyai komitmen menjalani kehidupan Islami.
Intinya nongkrong tobat tujuannya yang terpenting adalah mengajak sebanyak mungkin orang untuk mengenal Islam, dan tahu bahwa Islam menyenangkan, Islam itu penting dalam kehidupan, Islam adalah panduan hidup, dan Islam itu sederhana.
Keberlangsungan Santrendelik tidak lepas dari berbagai dukungan dari pihak luar seperti  Walikota Semarang, Gubernur Jawa Tengah, dan pihak-pihak lain yang tidak bisa disebutkan. Konsep pendekatan seperti ini yang sedang dibutukan banyak orang, netral dan tidak dibumbui oleh kepentingan politik didalamnya.
Kalau diibaratkan dengan jenjang pendidikan, maka Santrendelik masih pada tingkat TK setelah TK lulus, silakan bisa ke SD manapun.” Terang Torintawan, menjelaskan bahwa anak muda setelah bergabung dengan Santrendelik dapat meneruskan mendalami agama Islam di manapun.
Kegiatan Nobat awalnya digelar 4 hingga 6 kali setiap bulan namun seiring berjalannya waktu menjadi 3 kali dalam sebulan. Hal ini dikarenakan intensitas tinggi dapat membuat santri kelelahan dan mengurangi kehadiran jamaah di Santrendelik. Namun saat bulan Ramadan kegiatan Santrendelik ditambah dengan kegiatan harian seperti tadarus, tarawih, dan salat Tahajud.
Berbagai rintangan dihadapi awal mula keberadaan Santrendelik mulai dari dikira menghina kampung karena menamai dirinya “Kampung Tobat” yang secara tidak langsung menghina kampung yang mereka tempati merupakan kampung sesat, dianggap menyebarkan ajaran yang melenceng dari akidah, tetapi kerikil – kerikil tersebut perlahan dapat dilalui dan membuat Santrendelik semakin konsisten dalam menyebarkan kebaikan.
Santrendelik menggunakan sarana media sosial seperti Facebook dan Instagram untuk menyebarkan informasi dan gagasannya. Selain itu Santrendelik membuka rekening donasi yang akan digunakan untuk membangun kompleks Santrendelik Kampung Tobat dan Masjid 1001 Pintu Taubat didalam komplek Santrendelik. Tidak hanya mengusung gerakan taubat, Santrendelik menyadarkan bahwa ajaran agama tidak hanya untuk orang-orang tua dan lanjut usia tetapi juga untuk generasi muda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Cerita dari Pendengar Pemula

  Pada mulanya pagi hari ini (17/6), saya beranjak dari indekos menuju Perpustakaan kampus. Menyempatkan mampir di Warung Tegal (Warteg) andalan untuk sarapan. Waktu demi waktu berlalu, tak terasa sudah tahun ketiga menjadi mahasiswa. Manis dan pahitnya kehidupan kampus (hampir) semua sudah pernah dirasa. Hari demi hari, tugas kuliah yang menjemukan dan kekhawatiran akan masa depan menjadi suatu hal yang menyebalkan. Mutakhir ini, ada banyak hal yang belum bisa tercapai, hingga rencana-rencana baik yang belum terlaksana. Sebagaimana lirik lagu “Gas” dari album kedua FSTVLST. Band rock lokal asal Yogyakarta itu menulis: berjalan tak seperti rencana adalah// jalan yang sudah biasa// dan jalan satu-satunya// jalani sebaik kau bisa . Rencana menulis untuk mengingat #setahunalbum2fstvlst sebenarnya tidak ada. Pertama, kurang lebih baru satu bulan saya mengenal dan mendengarkan lagu-lagu FSTVLST. Kedua, saya tidak pernah menyimak FSTVLST secara langsung di panggung. Namun, seperti ...

Solidaritas Warga Bantu Warga di Tegal: Maspur dan Ponggol Jumat Merdeka

Gerakan Maspur saat sedang melakukan kegiatan berbagi . Dok Pribadi Maspur/ Ika Mulyani Saban Selasa dan Sabtu malam, Bijak Cen Soekarno--akrab dipanggil Jaka--dan delapan anak muda lain menyusuri sudut-sudut jalanan di Kota Tegal guna “merazia” orang-orang yang kelaparan. Kegiatan berbagi nasi ini dinamakan oleh Jaka, pria 35 tahun itu, sebagai gerakan “Maspur”, kepanjangan dari Mbagi-Mbagi Sega Campur (Berbagi Nasi Campur). Dimulai pukul 22.30 WIB hingga dini hari, Jaka dan kawan-kawan melawan kantuk dan menahan dingin embusan angin di Kota Tegal untuk berbagi nasi kepada yang membutuhkan, seperti orang-orang marginal, yang hidup di jalanan, Gepeng (gelandangan dan pengemis), tukang becak, serta siapa saja yang membutuhkan makanan. Hal yang sama dilakukan oleh komunitas Paguyuban Scooterist Balapulang (PSB), salah satu komunitas Vespa di Tegal yang telah terbentuk sejak 6 Januari 2019. Enam bulan yang lalu, PSB memulai gerakan sosi...

Sulam dan Sedikit Upaya Menjaga Ketahanan Pangan

Alam Setia Budi (Sulam) sedang memanen kangkung yang dia tanam . Dok/Diki Mardiansyah             Pada mulanya Rabu siang (14/4) itu, Alam Setia Budi (27) berangkat ke ladang yang ia tanami kangkung di Desa Banjaranyar, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Kegiatan ini sudah dilakukan oleh Sulam—sapaan akrabnya—sekitar empat bulanan yang lalu. Setelah pengalaman mengatarkannya menjadi kuncen steam cuci motor dan usaha ternak lele saat masih menyandang status sebagai mahasiswa jurusan pendidikan. “Sudah sekitar empat bulanan pasca berhenti menjadi tukang steam motor di Slerok, Kecamatan Tegal Timur, Kabupaten Tegal saya kemudian sekarang menjadi petani”, kata Sulam. Alam Setia Budi (Sulam) salat zuhur di gubuk . Dok/Diki Mardiansyah Cuaca agak mendung sesampai di ladang. Sulam bergegas ke sungai kecil yang terletak di samping gubuknya untuk berwudu. Ia kemudian memakai sarung dan menggelar sajadah menunaikan salat zuh...