Langsung ke konten utama

Solidaritas Warga Bantu Warga di Tegal: Maspur dan Ponggol Jumat Merdeka


Gerakan Maspur saat sedang melakukan kegiatan berbagi. Dok Pribadi Maspur/ Ika Mulyani

Saban Selasa dan Sabtu malam, Bijak Cen Soekarno--akrab dipanggil Jaka--dan delapan anak muda lain menyusuri sudut-sudut jalanan di Kota Tegal guna “merazia” orang-orang yang kelaparan. Kegiatan berbagi nasi ini dinamakan oleh Jaka, pria 35 tahun itu, sebagai gerakan “Maspur”, kepanjangan dari Mbagi-Mbagi Sega Campur (Berbagi Nasi Campur).

Dimulai pukul 22.30 WIB hingga dini hari, Jaka dan kawan-kawan melawan kantuk dan menahan dingin embusan angin di Kota Tegal untuk berbagi nasi kepada yang membutuhkan, seperti orang-orang marginal, yang hidup di jalanan, Gepeng (gelandangan dan pengemis), tukang becak, serta siapa saja yang membutuhkan makanan.

Hal yang sama dilakukan oleh komunitas Paguyuban Scooterist Balapulang (PSB), salah satu komunitas Vespa di Tegal yang telah terbentuk sejak 6 Januari 2019. Enam bulan yang lalu, PSB memulai gerakan sosial kecil-kecilan, tapi bermakna bagi warga yang merasakan manfaatnya. Gerakan ini bernama “Ponggol Jumat Merdeka”, suatu gerakan berbagi nasi Ponggol (nasi bungkus khas Tegal). Gerakan berbagi ini dilaksanakan tiap hari Jumat, selepas salat jumat. Dengan berkendara Vespa, anggota PSB berkeliling di tiga kecamatan daerah Kabupaten Tegal: Balapulang, Lebaksiu, dan Margasari.

            ...

Satu dari sedikit kabar baik di tengah pandemi Covid-19 ini yaitu tumbuh suburnya gerakan solidaritas yang ada di berbagai wilayah. Di tengah pagebluk yang sudah menggugurkan jutaan nyawa manusia--baik orang-orang biasa, dokter dan tenaga kesehatan, maupun anak-anak kecil--sejumlah individu dan komunitas menolak diam dan menginisiasi gerakan kolektif warga bantu warga.

Reportase ini saya tulis untuk mengabadikan sebagian kisah gerakan solidaritas publik. Seperti halnya yang telah tertulis dalam Laporan Utama Majalah Tempo edisi 16 Mei 2020. Laporan berjudul “Pengisi Ruang Kosong” mencatatkan, bencana akan membuat manusia berpikir akan kematian, bahwa kematian itu dekat. Martin Heidegger dalam Being and Time (1962) menerangkan, kematian menyebabkan kegelisahan. Sementara itu, Idaman Alwi cs (2017) menyatakan kegelisahan ini akan menggerakkan solidaritas secara masif dan spontan dalam situasi bencana.

Sejarah akan terus tertulis. Solidaritas akan selalu ada dan berlipat ganda ketika bencana melanda. Kita mengingat lagi bencana tsunami Aceh 2004, masyarakat bersolidaritas: menguburkan jasad; membagikan bantuan; atau sekadar menghibur anak-anak yang kehilangan keluarga. Sejarah solidaritas ini akan terus tercatat, solidaritas warga bantu warga tidak akan pernah luntur.

Pandemi Corona yang terjadi Maret 2020 lalu, menumbuhkan banyak cerita solidaritas. Ada banyak gerakan solidaritas warga bantu warga di masa pandemi di berbagai wilayah Indonesia. Dapur Umum Solidaritas Pangan di Yogyakarta, misalnya. Sejak akhir Maret 2020 lalu, Dapur Umum Solidaritas Pangan Yogyakarta itu mengumpulkan bahan pangan, meracik bumbu, memasak, kemudian membagikannya kepada pemulung, tukang becak, dan penghuni kawasan prostitusi.

Di tanah kelahiran saya, 27 Oktober 2021 lalu, saya berkesempatan berbincang bersama dua orang. Masing-masing dari mereka menginisiasi gerakan solidaritas warga bantu warga. Satu di wilayah Kota Tegal, dan satunya lagi di Kabupaten Tegal. Ada gerakan-gerakan solidaritas lain di Tegal, tentunya di luar yang saya tulis. Tanpa mengurangi rasa hormat dan mengecilkan gerakan lain, semua sama berharganya, sama bermaknanya, sama bermanfaatnya.

            ...

Berbagi Nasi di Kota Bahari

Tahun 2012, Jaka tiba di Surabaya. Kota Pahlawan itu ternyata tidak benar-benar menjadi “Kota Pahlawan” bagi Jaka, setelah ia mengalami musibah kerampokan sehabis turun (pendakian) dari Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Jaka dan teman-teman lainnya kelaparan karena tidak ada uang untuk beli makan selepas kerampokan. Di saat yang bersamaan, Jaka melihat orang-orang yang tidur di pinggir jalan kelaparan juga.

Siapa sangka? Musibah kerampokan yang menyebabkan Jaka dan teman-temannya kelaparan, justru menjadi salah satu inspirasi bagi Jaka untuk menginisiasi gerakan berbagi nasi.  “Saya pernah kelaparan dan niatan ingin berbagi di kemudian hari,” kata Jaka, pria yang juga tertarik dengan sejarah dan bangunan zaman dulu.

Jaka mengakui, gerakan berbagi makanan di Kota Tegal sebenarnya sudah banyak. Namun, ia mengemasnya dalam bentuk yang berbeda. “Saya mengemas (gerakan berbagi makanan) dalam bentuk lain. Ketika saya pulang ke Tegal, mencoba mengemas program ini dengan berbeda, membagikan makanan di waktu malam-malam,” tutur Jaka, yang juga menjadi penggagas Mlaku-Mlaku Sejarah, komunitas yang berbagi informasi seputar sejarah.

Gerakan Maspur (Mbagi-mbagi Sega Campur) dibentuk jauh sebelum pagebluk Corona terjadi. Jaka menuturkan, tahun 2012 dicetus dan tahun 2014 mulai bergerak (eksekusi) dan tetap berjalan hingga sekarang. Namun, memasuki masa pandemi, intensitas gerakan Maspur makin tinggi.

Kota Tegal Sempat Local Lockdown         

Jika melihat catatan penanganan Covid-19 setahun belakang. Jagat media massa dan media sosial pernah ramai membicarakan langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal yang berani menerapkan “Local Lockdown”.  Local Lockdown diterapkan dari 30 Maret 2020 dan berakhir 30 Juli 2020. Tentu saja, langkah berani dari Pemkot Tegal ini menuai kontroversi dan menimbulkan tanggapan dari Gubernur Jawa tengah hingga Menteri Dalam Negeri.

Di saat negara “tidak berani” memutuskan Lockdown atau karantina wilayah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Di mana salah satu tanggung jawab pemerintah ialah mencukupi segala kebutuhan dasar warga negara, bahkan makanan untuk hewan ternak peliharaannya. Justru, di ruang lingkup yang lebih kecil (Kota Tegal), memilih untuk menerapkan Local Lockdown.

Saat kebijakan Local Lockdown diterapkan, Kota Tegal pada saat itu bagaikan "kota mati" yang sepi dengan lampu-lampu jalan yang redup. Jaka kemudian mempertanyakan keadaan ini, “Saat Tegal Lockdown, justru saya tidak melihat gerakan-gerakan yang ada di Tegal yang sebelumnya ada berbagi nasi, kok malah pas Lockdown --ketika warga butuh makan--, malah tidak ada. Ini ke mana?” tanya Jaka.

Hal ini tidak menjadi masalah bagi Jaka dan teman-teman. Gerakan Maspur sudah terbiasa bergerak bersama orang-orang seadanya. Ada atau tidaknya kebijakan Local Lockdown, gerakan Maspur akan terus ada dan terus berjalan.

Gerakan yang mempunyai jargon “Bahagia mangan wareg” atau dalam bahasa Indonesia berarti bahagia makan kenyang ini, dilaksanakan tiap Selasa malam dan Sabtu malam pukul 22.30 WIB hingga dini hari. Jaka mengungkapkan, alasan gerakan Maspur dilakukan malam hari, yaitu karena orang-orang marginal dan yang hidup di jalanan adanya waktu malam hari.

Mereka hidup dan tidur di toko-toko sekitar bilangan Jalan HOS Cokroaminoto Kota Tegal. “Jadi, mereka selesai toko-toko tutup pukul sekitar pukul 17.00 WIB atau 19.00 WIB, mereka menempati depan toko-toko yang entah siapa pemiliknya. Mereka tidur di depan ruko (toko) itu. Dan di waktu pagi, mereka juga harus pergi, karena tokonya mau buka kembali,” ujar Jaka dengan ekspresi senyum.

Uniknya, semacam ada kesepakatan dengan pemilik toko: toko tutup, mereka boleh tidur di depan toko. Tiba di waktu pagi, mereka harus pergi karena toko akan buka seperti biasanya. Ketika mereka pergi pun bertanggung jawab dengan meninggalkan toko dalam kondisi yang bersih. “Di sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto itu memang orang yang tidak punya rumah dan memang tidurnya saben malam di depan toko-toko, dan ada kesepakatan semacam itu, jadi tidak mengganggu,” ucap Jaka.

Mereka yang terpinggirkan menjadi langganan “sasaran” gerakan Maspur ini. Saat tiba di waktu pagi, ada yang memulung. Jika sudah selesai memulung, mereka tidur dan istirahat di tempat lain. Saat jam sudah menunjukkan sekitar pukul 17.00 WIB, mereka kembali menghuni depan toko-toko, seperti biasanya. Mereka berjumlah total sekitar tiga puluhan, yang ada di sisi kanan jalan, tempat yang biasa untuk mereka tidur.

Malioboro-nya Tegal Menjadi Masalah Baru

Jaka kemudian menuturkan, ada masalah baru yang menimpa orang yang tidak punya tempat untuk berteduh ini. “Di jalan yang menjadi tempat biasa mereka tertidur, sekarang dialihkan diisi oleh pedagang-pedagang yang dipindahkan karena adanya proyek pembangunan “Malioboro-nya Tegal”. Mereka pindah dan saya belum tahu pindahnya ke mana. Itu yang sedang saya cari juga,” tutur Jaka.

Di masa pandemi ini, tidak seharusnya Pemkot Tegal mengeluarkan anggaran sekian miliar untuk mengadakan proyek pembangunan “Malioboro-nya Tegal”. Selain hanya menghabiskan anggaran, meniru ikon kota lain merupakan hal yang kurang baik dan tidak kreatif. Terlebih lagi, adanya proyek pembangunan ini juga mendapatkan penolakan dari sebagian warga dan mahasiswa di Tegal.

Maspur untuk Warga, Warga untuk Maspur

Selama masa pagebluk Corona, Jaka mengutarakan, gerakan Maspur pernah paling banyak, yaitu dengan jumlah 300 bungkus nasi campur. “Biasanya itu ya hanya 70-an nasi, tapi pernah mencapai 300 nasi yang habis dalam waktu satu jam setengah saja, dari pukul 23.00 WIB sampai 00.30 WIB. Jujur, saya sempat pusing membagikannya karena terlalu banyak,” ungkap Jaka dengan diiringi tawa.

Jaka mengungkapkan, nasi campur ini bukan hanya untuk satu lokasi, melainkan untuk beberapa lokasi lain. Pernah membawa 100 nasi, habis hanya di lokasi satu tok saking banyaknya orang yang butuh makan saat itu. Akhirnya, di kelurahan-kelurahan lain tidak kebagian. Pas kejadian itu, Jaka dan kawan-kawannya, satu sepeda bawa lima sampai sepuluh nasi, lalu memencar. Momen itu juga pernah ditangkap oleh salah satu media online di Tegal.

Gerakan Maspur panjang umur. Rutin menyusuri Kota Tegal, dari Rumah Sakit Umum Daerah Kardinah, Pelabuhan, lanjut memutari daerah-daerah di Kota Tegal, Terminal, daerah SMA Negeri 1 Tegal, hingga sekitar Stasiun Kota Tegal. “Awalnya motor, terus beli becak. Eksekusi pakai becak tapi dikejar-kejar dan kurang efektif. Becak difungsikan untuk menaruh nasi. Kita kemudian naik sepeda, agar bisa lebih cepat dan efektif,” jawab Jaka saat ditanya gerakan ini dilakukan dengan cara seperti apa.

Soal dana gerakan Maspur ini, ada nasi dari donatur tetap yang diberikan oleh seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Singapura. “Kami juga memberi kesempatan bagi orang yang ingin ikut membantu dan berbagi bagi sesama warga,” kata Jaka. Selain itu, dana gerakan Maspur juga ada dari teman-teman yang patungan: kadang-kadang lima ribu, tujuh ribu yang ditaruh di kaleng. Seadanya dan serecehnya.

Gerakan warga bantu warga ini semakin terasa, saat pedagang-pedagang yang berjualan di Pasar Pagi --yang berangkat dari kesadaran masing-masing-- ikut membantu juga. Suatu kali, sepenuturan Jaka, pedagang-pedagang ini menanyakan kenapa Maspur tumben tidak berjalan.

Dua Pengalaman Gerakan Maspur

Ada dua pengalaman mengesankan sekaligus menjadi cerita yang menarik bagi Jaka saat melakukan gerakan Maspur. “Ceritanya begini, di dekat Pos Polisi Alun-alun Kota Tegal. Itu ada orang gila, bahkan dari saya kecil orang itu sudah gila, tapi berbadan bersih. Saya memanggilnya “Om”. Saat saya berikan satu bungkus nasi, terus dia menjawab 'terima kasih'.

Jaka melanjutkan, “Orang gila saja bisa bilang terima kasih. Sebenarnya (yang gila) itu kita, bukan dia. Ketika orang yang waras diberi ini-itu, kok lupa mengucapkan terima kasih. Sedangkan dia yang dicap “gila” saja mengucapkan terima kasih. Itu jadi pelajaran bagi saya. Saya kemudian berpamitan: saya pulang ya, Om. Dia orang gila. Ketika saya pulang, dia tidak menimpali, saat saya berikan nasi, bilang terima kasih”.

Pengalaman kedua, bagi Jaka menjadi pengalaman yang agak membuat kesal terjadi di Jalan Kartini, Kota Tegal. Jaka bertemu dengan orang yang kesusahan hanya sekadar untuk makan. Dia mencari-cari makanan di tempat sampah, di depan anak-anak atau orang-orang yang sedang berwisata kuliner di Jalan Kartini Kota Tegal. Jaka mengendarai motor ngebut dan seketika melihat kejadian itu langsung putar balik melawan arah jalan.

Jaka putar balik dan turun dari motor kesayangannya. “Saya mencolek, 'Om mangan (makan)', ” ucap Jaka. Dia kemudian menerima nasi yang disodorkan oleh Jaka dan sekaligus meminta air minum. “Dia mengucapkan: matur suwunmatur suwun (terima kasih, terima kasih),” tutur Jaka.

Peristiwa ini mungkin kebetulan momennya pas dia, yang tengah kelaparan, sedang mencari makan di depan orang-orang yang sedang lahap memakan makanan. “Peristiwa ini sangat menonjok bagi saya. Kenapa ini bisa terjadi? Kan orang-orang yang sedang makan itu bisa membelikan dia (orang yang tadi mencari makan di tempat sampah) makanan, harga nasi lima ribu sampai tujuh ribu saja. Kok enggak bisa? Ini benar-benar terjadi dan saya agak kesal,” ungkap Jaka dengan nada yang kesal juga.

Jaka kemudian mengingat peristiwa ini semacam mirip lirik lagu gubahan Iwan Fals berjudul Siang Seberang Istana dan saya mengingat cerita yang dituturkan oleh Jaka ini semacam mirip kejadian yang ada di film Gie (2005), garapan Riri Riza. Film ini mengisahkan adegan orang yang mencari makanan di tempat sampah, padahal itu terjadi di tempat ramai dan lokasinya di dekat Istana Negara.

Sementara itu, bagi Jaka, arti penting berbagi di masa pandemi ini, yaitu melakukan hal-hal semacam ini karena ia ingin menjadi manusia yang berbagi dengan sesama. “Tidak ada niat apa pun, kecuali berbagi. Kalau dilihat dari agama ya mungkin ini berbuat baik, beramal dan segala macam. Kalau saya sendiri, ya sebagai manusia dulu saja,” ungkap Jaka.

Jaka berharap, Pemkot Tegal membuka kembali sarana dan prasarana untuk masyarakat. Sebab, masyarakat mencari uangnya pun dari situ. Dari dibukanya kembali Alun-alun Tegal hingga lampu-lampu jalan dinyalakan. Orang-orang banyak yang mencari nafkah dari situ. "Orang lapar itu karena tidak punya pekerjaan. Dengan dibukanya Alun-Alun dan lampu jalan dinyalakan, tidak akan terjadi orang-orang yang kelaparan karena tidak mempunyai pekerjaan," tutur Jaka. 

Terakhir, Jaka berpesan untuk semua teman-teman. “Jadilah selayaknya manusia yang saling membutuhkan dan saling memberi,” pungkas Jaka.

...

Bekeliling Naik Vespa, Berbagi Ponggol Jumat Merdeka

Salah satu anggota PSB memberikan nasi kepada yang membutuhkan di jalanan Desa Banjaranyar. Dok Pribadi/ PSB

Beralih dari Kota Tegal menuju Kabupaten Tegal, saya berbincang bersama salah satu komunitas warga bantu warga di masa pandemi, ruang lingkupnya di Kabupaten Tegal. Saya berkenalan dengan Nur Hisom. Hisom, sapaan akrabnya, beralamat di Desa Pamiritan, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, menjadi salah satu penggerak gerakan “Ponggol Jumat Merdeka”.

Hisom, 30 tahun, mengungkapkan awal mula gerakan ini sekitar enam bulan yang lalu. Ponggol Jumat Merdeka lahir dari diskusi-diskusi kecil tentang Pancasila dan Keindonesiaan. Hisom menuturkan, semangat Pancasila adalah gotong royong. Ajaran nenek moyang kita adalah tidak adanya kesenjangan antara si kaya dan si miskin. “Artinya, si kaya berkewajiban untuk membantu si miskin, dan si miskin mempunyai tanggung jawab menjaga ketahanan,” kata Hisom salah satu anggota Paguyuban Scooterist Balapulang (PSB).

Pernah suatu kali, Hisom dan kawan-kawan PSB bertemu dan berbincang bersama tukang becak. “Om, njenengan sadina ngelayani pira? (Om, Anda satu hari melayani berapa?)” tanya Jaka. “Lah paling banter tiga penumpang, penghasilan kotor ya paling 30 ribu, nggo bensin 10 ribu, bersihe ya 20 ribu nggo harian, tapi yen dina Sabtu Minggu bisa naik dua kali lipat dadi 60 ribu. (Lah, paling banyak tiga penumpang, penghasilan kotor sekitar 30 ribu. Untuk bensin 10 ribu. Penghasilan bersih 20 ribu perhari. Tapi kalau hari Sabtu dan Minggu naik dua kali lipat menjadi 60 ribu)," jawab tukang becak.

PSB dengan Ponggol Jumat Merdeka ada untuk memberi pesan, bahwa tukang becak dan sekian banyak orang yang bernasib serupa di masa pandemi ini tidaklah sendirian. “Bahwa di masa pandemi ini, kita rumojong, artinya rumojong kita bisa bersatu dan bersama-sama. Sama-sama menanggung beban pandemi ini. Sebenarnya, bukan karena pandemi saja, sebab tolong menolong tidak seharusnya di masa pandemi saja,” tutur Hisom.

Gerakan Ponggol Jumat Merdeka menginspirasi gerakan lain bertumbuh. Gerakan lain itu, misalnya yang dilakukan oleh komunitas Tegal Vespa Indonesia, sebuah ikatan vespa se-Kabupaten dan Kota Tegal mengadakan galang dana yang dikumpulkan dari dana anggota-anggota komunitas ini. Setelah dana terkumpul, diubah (dibelikan) bahan pokok menjadi 120 paket. Satu paket seharga delapan puluh ribu yang bisa untuk membeli beras 5 kg, susu, minyak, telur, mi, dan bahan pokok lainnya.

“Kami berbagi kepada yang membutuhkan di sekitar kami dulu. Intinya kami ingin memberi pesan. Mungkin bantuan itu hanya dalam waktu seminggu habis. Kami tidak bisa membantu banyak, kami hanya berpesan bahwa Bapak Ibu yang --mohon maaf kurang mampu-- itu tidak sendirian menghadapi pandemi ini,” ungkap Hisom.

Ponggol Jumat Merdeka untuk Perut yang Merdeka dari Rasa Lapar

Anggota PSB memasak sendiri nasi yang akan dibagikan dengan lauk ayam yang terkadang juga telur. Jika anggota PSB capek seusai bekerja, mereka tidak memasak dan diganti membeli paket nasi padang. Saban hari Jumat, selepas salat Jumat pukul 14.00 WIB, mereka menaiki Vespa berjumlah 10 Vespa dan 20 orang, berkeliling di tiga kecamatan: Balapulang, Lebaksiu, Margasari. PSB mencari orang-orang yang pucat wajahnya karena belum makan, orang gila, tukang becak, tukang sapu, dan orang yang tidak mampu.

Satu kali Jumat Ponggol Merdeka diselenggarakan, biasanya paling sedikit 20 nasi.  Paling banyak dua wadah besar (sekitar 100 nasi lebih). “Itu kita iuran anggota, ada yang lima ribu, sepuluh ribu, 100 ribu, dan seadanya saja. Kalau ada yang mau masak ya masak silakan (nasi yang sudah jadi). Kalau lagi pada sibuk ya kita beli paket nasi padang sepuluh ribuan,” kata Hisom.

Hisom mengungkapkan bahwa banyak tidaknya jumlah yang dibagikan itu biasanya bergantung tanggal. Kalau tanggal muda ya itu seringnya banyak, kalau posisinya seperti sekarang tanggal tua (27 Oktober), itu ya paling 20 bungkus karena dana dari kegiatan berbagi ini murni dari anggota PSB.

Salah satu anggota PSB memberikan nasi kepada yang membutuhkan di jalanan Lebaksiu. Dok Pribadi/ PSB

“Ada cerita menarik, saya yang menghadapi sendiri. Ada orang gila yang ngamuk di depan SMA N 1 Balapulang. Akhirnya, anak-anak turun, ada keributan apa? ternyata ada orang gila ngamuk. Saya datang, saya kasih teh hangat, dan dia duduk, kami ngobrol, dan dia minta disuapkan nasi. Saya dan teman-teman tertawa. Saya suapkan beneran. Di saat teman saya dipukul kepalanya, saya datang, saya kasih minum, malah minta disuapkan nasi,” tutur Hisom dengan tertawa.

Selain itu, ada cerita lagi yang terjadi di Kecamatan Margasari. Ada orang yang langsung minta nasi, dia pencari barang bekas (Pemulung).  Orang itu seperti sedikit frustrasi, Hisom kasih makan dan minuman teh hangat. Selanjutnya, Hisom kasih rokok dan mereka merokok bareng. Si Pemulung yang tidak diketahui namanya itu kemudian berterima kasih dan pamit pergi. “Dia bilang dari pagi belum mambu nasi (mencium nasi). Dia mendoakan saya beserta kawan-kawan lain sehat dan lancar-lancar semuanya. Dan saya balik mendoakan beliau,” kata Hisom.

Hisom menuturkan bahwa hal yang paling prinsip, yaitu gotong royong masih ada, di mulai dari diri kita sendiri. Entah itu di mana pun organisasi atau komunitas kepemudaan lainnya. Kami anak Vespa dianggap anak nakal: tukang mendem (mabuk), tukang minum. Tapi dari situ kami ingin membuktikan, artinya kita tidak membuktikan ke siapa pun. Mereka hanya membuktikan gotong royong masih ada dan itu masih lestari, masih kuat di akar rumput. Pejuang-pejuang masyarakat bawah seperti itu masih ada. Hisom berprinsip, Indonesia adalah gotong royong: kesetaraan, kebersamaan, saling mengasihi satu sama lain

Akhirnya, Hisom berpesan hakikatnya manusia berawal dari ketiadaan menjadi ada dan kembali ke tiada. Kita harus eling balike (ingat kembali). Kita harus paham apa itu manusia, apa tugas manusia.

Hisom kemudian mengingat kata-kata dari filsuf Aristoteles. Filsuf berkebangsaan Yunani itu mengutarakan bahwasanya manusia itu makhluk zoon politicon alias makhluk sosial. “Kalau manusia sudah sadar akan posisinya, saya rasa apa pun latar belakang manusia itu, akan memberikan manfaat. Entah itu di keluarga, lingkungan, RT RW, di desanya, ya sebenarnya mulai dari diri sendiri,” pungkas Hisom.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Cerita dari Pendengar Pemula

  Pada mulanya pagi hari ini (17/6), saya beranjak dari indekos menuju Perpustakaan kampus. Menyempatkan mampir di Warung Tegal (Warteg) andalan untuk sarapan. Waktu demi waktu berlalu, tak terasa sudah tahun ketiga menjadi mahasiswa. Manis dan pahitnya kehidupan kampus (hampir) semua sudah pernah dirasa. Hari demi hari, tugas kuliah yang menjemukan dan kekhawatiran akan masa depan menjadi suatu hal yang menyebalkan. Mutakhir ini, ada banyak hal yang belum bisa tercapai, hingga rencana-rencana baik yang belum terlaksana. Sebagaimana lirik lagu “Gas” dari album kedua FSTVLST. Band rock lokal asal Yogyakarta itu menulis: berjalan tak seperti rencana adalah// jalan yang sudah biasa// dan jalan satu-satunya// jalani sebaik kau bisa . Rencana menulis untuk mengingat #setahunalbum2fstvlst sebenarnya tidak ada. Pertama, kurang lebih baru satu bulan saya mengenal dan mendengarkan lagu-lagu FSTVLST. Kedua, saya tidak pernah menyimak FSTVLST secara langsung di panggung. Namun, seperti ...

Sulam dan Sedikit Upaya Menjaga Ketahanan Pangan

Alam Setia Budi (Sulam) sedang memanen kangkung yang dia tanam . Dok/Diki Mardiansyah             Pada mulanya Rabu siang (14/4) itu, Alam Setia Budi (27) berangkat ke ladang yang ia tanami kangkung di Desa Banjaranyar, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Kegiatan ini sudah dilakukan oleh Sulam—sapaan akrabnya—sekitar empat bulanan yang lalu. Setelah pengalaman mengatarkannya menjadi kuncen steam cuci motor dan usaha ternak lele saat masih menyandang status sebagai mahasiswa jurusan pendidikan. “Sudah sekitar empat bulanan pasca berhenti menjadi tukang steam motor di Slerok, Kecamatan Tegal Timur, Kabupaten Tegal saya kemudian sekarang menjadi petani”, kata Sulam. Alam Setia Budi (Sulam) salat zuhur di gubuk . Dok/Diki Mardiansyah Cuaca agak mendung sesampai di ladang. Sulam bergegas ke sungai kecil yang terletak di samping gubuknya untuk berwudu. Ia kemudian memakai sarung dan menggelar sajadah menunaikan salat zuh...