Pada
mulanya pagi hari ini (17/6), saya beranjak dari indekos menuju Perpustakaan
kampus. Menyempatkan mampir di Warung Tegal (Warteg) andalan untuk sarapan. Waktu
demi waktu berlalu, tak terasa sudah tahun ketiga menjadi mahasiswa. Manis dan
pahitnya kehidupan kampus (hampir) semua sudah pernah dirasa. Hari demi hari,
tugas kuliah yang menjemukan dan kekhawatiran akan masa depan menjadi suatu hal
yang menyebalkan.
Mutakhir
ini, ada banyak hal yang belum bisa tercapai, hingga rencana-rencana baik
yang belum terlaksana. Sebagaimana lirik lagu “Gas” dari album kedua FSTVLST.
Band rock lokal asal Yogyakarta itu menulis: berjalan tak seperti rencana adalah// jalan yang sudah biasa// dan
jalan satu-satunya// jalani sebaik kau bisa.
Rencana
menulis untuk mengingat #setahunalbum2fstvlst sebenarnya tidak ada. Pertama,
kurang lebih baru satu bulan saya mengenal dan mendengarkan lagu-lagu FSTVLST.
Kedua, saya tidak pernah menyimak FSTVLST secara langsung di panggung. Namun,
seperti halnya lirik “Gas”, berjalan tak sesuai rencana adalah hal yang acap
kali terjadi dan pilihan tepat ialah menjalaninya dengan sebaik-baiknya yang
kita bisa. Maka dengan itu, saya berupaya menulis ini dengan sebaik yang saya
bisa dan (semoga) ini berhasil. Ini hanya sebuah cerita dari pendengar pemula.
Perkenalan
saya dengan FSTVLST bermula saat saya menyimak story Instagram Kakak saya. Dia memamerkan CD fisik album Hits
Kitsch yang dirilis pada tahun 2014. Saya tertarik dan penasaran mendengarkan
lagu-lagu FSTVLST yang sudah dipamerkan Kakak saya itu. Selain karena
penasaran, Kakak saya sudah banyak mengenalkan band-band berkualitas dan
bermutu untuk didengarkan adiknya ini.
Perkenalan
pertama bersama FSTVLST dimulai dengan
lagu berjudul “Menantang Rasi Bintang”, sebagian lirik berpesan menyudahi
kesedihan untuk lekas bersyukur dan berbahagia. Kita simak saja: Maka sudahilah// sedihmu yang belum sudah//
segera mulailah// syukurmu yang pasti indah// berbahagialah//.
Kakak
saya tak pernah berbohong mengenalkan band-band yang bermutu, yang bukan saja
enak didengar melainkan bermuatan isu sosial dan merawat cita pendengarnya.
Setelah “Menantang Rasi Bintang” selesai didengar, saya ketagihan mendengarkan
lagu-lagu lain di album Hits Kitsch. Semuanya bermakna, ada kegelisahan dan
keciamikan untuk didengar. Musik memang sering memuat pesan, kegelisahan, dan
keresahan.
Saya pernah menulis esai soal musik. Esai saya beri judul: Musik: Pesan dan Keresahan (2020). Esai mencatat bahwa musik menjadi bahasa universal yang bisa kita terjemahkan apa saja. Musik agaknya menawarkan sedikit “penyembuhan” terhadap persoalan-persoalan pelik kehidupan manusia, entah lewat permenungan atau semangat yang bisa kita dapat dibalik makna liriknya.
Foto saat sinar matahari muncul di Gunung Prau. Dok/Diki Mardiansyah
Album
Hits Kitsch dan lagu “Gas” telah menemani hari-hari saya mutakhir ini sebagai
semacam penyembuhan saat tugas-tugas kuliah di semester enam terus menerus
menghujam. Bahkan, saat seminggu lalu saya mendaki Gunung Prau, saya memutarnya
di sepanjang perjalanan dan malam dingin di Gunung yang berada di ketinggian
2.565 meter di atas permukaan laut itu. Perkenalan dengan FSTVLST tak berhenti
pada album perdananya saja. Saya tertarik mendengarkan album FSTVLST II yang
sudah rilis setahun lalu. Album yang menurut situs warningmagz.com sebagai album sekuel dari kemarahan dan kegelisahan
album pertama.
Ada “Gas” yang dalam track ini lebih ditempatkan semacam do’a untuk memulai dan menjadi tembang motivasi untuk menjalani hidup sebaik-baiknya. Saya mendengarnya setiap pagi dan berupaya menjalani hari dengan sebaik-baiknya. Ada “Mesin” yang bermuatan pesan untuk buruh kita yang semakin dirugikan hak-haknya, terlebih telah disahkannya Omnibus Law UU Cipta Kerja. Ada “Telan” yang memuat kritik lingkungan hidup yang semakin hari kita sebagai manusia terus merusaknya. Saya juga menemukan lirik lagu keren tentang lingkungan hidup dan bumi yang digubah Sisir Tanah, lirik berbunyi: Jika bumi adalah ibu// kita manusia memperkosa ibunya// setiap hari/ setiap jam// setiap menit// setiap detik//. Keduanya memiliki hal yang sama, sesama musisi asal Yogyakarta, yang menyuarakan kritik manusia terhadap lingkungannya.
Maria Sumarsih saat diwawancari media. Dok/ Diki Mardiansyah
Selain itu, ada “Kamis” yang dipersembahkan
untuk mereka yang berdiri di bawah payung hitam menagih janji penuntasan kasus
pelanggaran HAM masa lalu. Saya sudah pernah bersama mereka di Aksi Kamisan
pada bulan Januari 2020. Sebelum pandemi merabah dunia, alhamdulillah
berkesempatan berdiri bersama korban-korban yang kehilangan keluarganya.
Lirik “Kamis” ini puitis, lagu bersenandung: Mereka yang telah pergi// mungkin tak akan
kembali// tiada sampai sejati// menghilang karena terbagi. Saya bertemu
langsung dengan Maria Sumarsih, Ibu kandung dari Wawan, mahasiswa Universitas
Katolik Atma Jaya, Jakarta yang terbunuh karena tragedi Semanggi. Ibu Sumarsih
perempuan berpayung hitam itu selalu rutin dan tak kenal lelah berdiri di depan
Istana Negara setiap hari Kamis menagih janji-janji pemerintah tentang berbagai
macam kasus pelanggaran HAM. Sumarsih memang mengaminkan anaknya tak kembali,
tapi Sumarsih percaya dan yakin untuk terus merawat semangat anaknya yang telah
hilang nyawanya.
Massa Aksi Kamisan bersolidaritas atas terjadinya penggusuran di Tamansari. Dok/ Diki Mardiansyah
Kesan pertama saya pada lagu “Kamis” menjadi
lagu pengingat. Bagi saya, mendengarkan “Kamis”, mengingatkan saya (kembali) berdiri
bersama manusia-manusia kuat dan hebat yang melakukan Aksi Kamisan.
Musik
berkualitas dan bermutu menurut saya ialah musik yang memuat pesan dan
keresahan. Sebab, bagi musisi arus utama musik adalah keindahan dan berhenti
hanya di situ saja. Simak saja lagu-lagu populer, berkutatnya pada soal cinta
melulu. Apabila musisi arus utama menyuarakan sesuatu pun, hasilnya sekadar
gincu motivasi nan syahdu, tanpa kritik.
Tak
hanya melulu soal cinta-cinta saja. FSTVLST melalui album keduanya telah
melangkah pada musik yang memuat kegelisahan. Mendengar lagu demi lagu di album
kedua yang sudah berusia setahun itu, merenungi hal-hal yang terjadi dan
berharap menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Kita
mendengarkan musik sekaligus mendapatkan “pesan” dalam suatu lirik lagu. Musik merupakan media yang cukup efektif
untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat (Hidayat, 2014). Musik bukan hanya perkara bunyi yang
keluar dari mulut saja, musik meniti jalan terjal menghadapi pesan soal
kemanusiaan. FSTVLST bersama album keduanya saya rasa, telah
melakukan itu.
Kata
demi kata sudah tertulis. Sebuah pengakuan dan (sedikit) cerita dari pendengar
pemula seperti saya. Selamat merayakan setahun album kedua, semoga lekas
tercipta album-album selanjutnya. Tabik untuk FSTVLST!
Semarang,
17 Juni 2021
.




Komentar
Posting Komentar