Alam
Setia Budi (Sulam) sedang memanen kangkung yang dia tanam. Dok/Diki Mardiansyah
Pada
mulanya Rabu siang (14/4) itu, Alam Setia Budi (27) berangkat ke ladang yang ia
tanami kangkung di Desa Banjaranyar, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal.
Kegiatan ini sudah dilakukan oleh Sulam—sapaan akrabnya—sekitar empat bulanan
yang lalu.
Setelah pengalaman
mengatarkannya menjadi kuncen steam cuci motor dan usaha ternak lele saat masih
menyandang status sebagai mahasiswa jurusan pendidikan. “Sudah sekitar empat
bulanan pasca berhenti menjadi tukang steam motor di Slerok, Kecamatan Tegal
Timur, Kabupaten Tegal saya kemudian sekarang menjadi petani”, kata Sulam.
Alam
Setia Budi (Sulam) salat zuhur di gubuk. Dok/Diki Mardiansyah
Cuaca agak mendung sesampai di ladang.
Sulam bergegas ke sungai kecil yang terletak di samping gubuknya untuk berwudu.
Ia kemudian memakai sarung dan menggelar sajadah menunaikan salat zuhur. Ada sedikit cerita jenaka tentang gubuk itu.
Sulam menuturkan, terdapat kesalahan saat membangun gubuk.
Gubuk yang memakan waktu dua pekan untuk
rampung ini, seharusnya berbentuk persegi ini, malah berbentuk jajar genjang.
Kami berdua tertawa, sebab yang mendirikan gubuk itu kawan-kawan dekat Sulam
juga. Pembuatan gubuk itu dikerjakan oleh beberapa temannya yang kerap kali
ikut membantu Sulam menanam kangkung hingga kangkung siap dipanen dan dijual.
Siang ini pukul 13.43 WIB, hari di mana
Sulam berkesempatan memanen kangkung yang sudah ia tanam kurang lebih dua pekan
yang lalu. Setelah kangkung dipetik, dikumpulkan, dan dicuci. Kangkung lalu
diikat dan menghasilkan 27 ikat. “Satu ikat kangkung dihargai Rp1500. Di jual
besok hari di bakul pasar”, ujar Sulam. Harga jual kangkung memang tak begitu
mahal, namun Sulam selalu bersyukur atas apa yang didapatkan.
Alam
Setia Budi (Sulam) mengikat kangkung yang telah dipanen. Dok/Diki Mardiansyah
Beberapa
kangkung yang sudah diikat dan siap dijual. Dok/Diki Mardiansyah
Seharusnya, di tahun ini Sulam mengajar
di sebuah sekolah di Kabupaten Tegal. Sulam alumnus dari program studi
Pendidikan Agam Islam di Institut Agama Islam Bakti Negara Tegal. Namun,
rencana tersebut urung dilaksanakan.
“Tidak jadi mengajar. Di masa pandemi
ini mau mengajar siapa? Sekolah masih pembelajaran jarak jauh dan saya harus
menyesuaikan itu, rasanya cukup sulit. Akhirnya saya lebih memilih menanam. Selain
karena hobi, untuk mengisi kekosongan setelah berhenti usaha di steam cuci
motor”, kata Sulam sambil terus mengikat kangkung yang telah dipanennya itu.
Pandemi membuat berbagai bidang
kewalahan. Tak terkecuali yang dirasakan oleh Sulam. Sulam yang rencananya akan
mengajar, kini beralih menjadi petani muda yang berijazah sarjana pendidikan.
Ketika ditanya apakah ada rasa malu sebagai sarjana tetapi malah bekerja di
ladang yang panas, Sulam menjawab dengan tegas tidak malu sama sekali.
“Tidak ada perasaan malu. Dulu, sewaktu
mahasiswa saya sudah memulai usaha ternak dan turut serta menjual lele di
berbagai daerah di Kabupaten Tegal, bahkan ke daerah lain, setelah wisuda saya
membuka usaha steam cuci motor, dan pada akhirnya sekarang saya memilih menanam
kangkung”, jawab Sulam.
Kini, Sulam memilih menanam. Menanam kangkung
sebagai (sedikit) upayanya menjaga ketahanan pangan. Hobi menanam menjadi salah
satu alasannya sekarang ia berkecimpung di sektor pertanian. “Saya mempunyai
rencana, jika ada modal untuk membeli lahan. Akan saya tanami cabai, kangkung,
jagung, dan sebagainya”, kata Sulam.
Hari sudah hampir petang. Sebelum
pulang, Sulam kembali mengajak ke ladang besok hari. Konon, ia akan mengajak
kedua temannya juga.
...
Alam
Setia Budi (Kanan), Sukron Maulana (Tengah) dan Muhammad Ragil (Kiri) sedang
menanam bibit kangkung sekaligus memberi pupuk. Dok/ Diki Mardiansyah
Matahari terbit dan Desa Banjaranyar
sedang cerah-cerahnya hari ini. Kami bertemu di rumah Sulam beserta kedua
temannya itu. Kami membawa bekal makanan dan minuman sebelum berangkat menuju
ladang. Agenda hari ini adalah menanam kangkung setelah kemarin sudah dipanen.
Sulam kali ini ditemani oleh kedua temannya, dua teman itu adalah Sukron
Maulana (24) dan Muhammad Ragil (28).
Sukron sekarang bekerja sebagai pedagang
penyetan di Desa Banjaranyar, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Sebelum
membuka usaha warung penyetan, Sukron pernah bekerja di Kota Tangerang pada sebuah
perusahaan yang bergerak di bidang kayu. Setelah keluar dari perusahaan, Sukron
membuka usaha warung penyetan di kota yang sama.
Sukron kemudian memilih kembali ke desa,
karena berjualan di kota rantau dirasanya sepi, terlebih karena pandemi. Sedangkan
satunya lagi, Ragil sekarang berjualan martabak di luar kota. Hari ini dan
beberapa hari yang lalu ia pulang dan menyempatkan menemani sahabat dekatnya, Sulam,
untuk menanam.
Sukron dan Ragil adalah teman terdekat
Sulam. Mereka siap membantu Sulam menanam. Sukron mengatakan ia ikut membantu
karena ingin Sulam tetap kuat dan sebagai teman mengobrol di ladang. Saat
ditanya tertarik tidak berkecimpung di sektor pertanian, ia tetap memilih fokus
berdagang. “Saya kurang tertarik, saya hanya ingin membantu Sulam di sela-sela
waktu senggang saya saja, sebelum berdagang di sore hari”, ujar Sukron.
Kondisi sekarang memang memprihatinkan.
Di mana sektor pertanian tidak diminati oleh pemuda. Tak menampik fakta bahwa
sedikit saja pemuda yang bercita-cita menjadi petani. Hal ini barangkali yang
menyebabkan munculnya prediksi di tahun 2063 pekerjaan petani di Indonesia akan
lenyap.
Generasi muda tanah air makin banyak
yang menjauhi profesi sebagai petani, bahkan di kalangan mahasiswa lulusan
fakultas pertanian itu sendiri. Hal yang sangat memprihatinkan bagi masa depan
ketahanan pangan di negeri kita. Tentu, kondisi minat rendah generasi muda
menjalani profesi petani otomatis mengancam kedaulatan produksi pangan
Indonesia di masa depan.
Sulam adalah salah satu pemuda yang
bangga menjadi petani muda. Ia tidak gengsi sekalipun sudah menamatkan
pendidikan di strata satu jurusan pendidikan. Sulam dan pilihannya untuk
menanam berangkat dari hobinya dan (sedikit) kesadarannya akan ketahanan pangan
di masa mendatang.
*Tulisan
ini telah diikut sertakan dalam Lomba Menulis Berita BPPM Primordia Universitas
Gadjah Mada 2021
Komentar
Posting Komentar