Langsung ke konten utama

Cerita Sederhana Seorang Petani


Konon katanya, di sebuah musala yang terletak di pelosok desa. Terdapat cerita sederhana tentang kehidupan masyarakatnya. Masyarakat tani, begitulah kompleks sebelah menyebutnya. Tentu, ada sebab asalnya. Masyarakat di sini mayoritas bekerja sebagai petani, meskipun beberapa ada yang lain lagi; pedagang, buruh, wiraswasta, guru, bahkan ada yang TNI. Semua ada di sini, meski harus diakui jumlah petani paling mendominasi.
Masyarakat guyub rukun, saling mengasihi dan saling menghidupi. Tidak mengenal dan memedulikan dunia politik, tetapi tidak buta juga. Tidak gila jabatan, apalagi kekuasaan. Bisa menyekolahkan anaknya dan bermanfaat bagi sesama merupakan sebuah kebahagiaan bagi mereka. Sederhana, bukan?
Di waktu subuh, sebelum berangkat ke ladang taninya. Mereka memenuhi kewajiban dan perintah dari Rabb-Nya: Allah yang maha welas asih. Dengan penuh berserah diri, berdoa memohon rezeki supaya bisa disyukuri sepanjang hari. Pergi bertani demi kebutuhan pangan umat manusia terpenuhi.
Barangkali pekerjaan paling mulia di dunia ini ada dua: menjadi petani dan menjadi guru. Ya, walaupun semua yang bekerja selain keduanya tersebut itu mulia juga. Semua mulia, jika bekerja bersama hati.
Konon, Indonesia kita sekarang hari ini: sibuk membangun lupa menanam. “Kita tidak disuruh panen. Kita ini disuruh menanam. Karena itu, jangan pernah berhenti menanam”, ujar Mbah Emha Ainun Nadjib. Zaman sekarang sawah dijadikan rumah-rumah. Saat orang kecil punya rumah, rumahnya diratakan oleh tanah. Mengutip dawuh Mbah KH. Mustofa Bisri: Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana?”
Sementara itu, panas matahari hingga terkadang hujan badai menghantui, mereka masih tetap bertahan. Siang hari, saat matahari sedang menguji kesabaran. Mereka istirahat dan duduk di gubuk berbahan bambu, kemudian membuka bekal yang dibawanya. Tidak ada makanan ciri khas orang kota, apalagi pizza khas Italia.
Makanan sederhana namun tidak kalah sedapnya. Selesai makan, bersandar di saka gubuk, menghisap rokok kretek. Berdialog bersama yang lain, sembari melihat hamparan semesta yang terbentang indahnya. Bagi mereka, ini adalah kenikmatan yang tak pernah didustakan.
Selepas istirahat, mereka kembali lagi mencangkul dengan kuat. Tidak peduli kotor, sebab pergi  ke sawah tak berseragam rapi dan berdasi. Mereka memakai kaus biasa dengan senyum yang luar biasa. Terkadang pulang dari sawah pukul satu siang, kemudian bersembahyang. Terkadang juga pulang hingga larut malam, berjalan bersama matahari yang perlahan tenggelam.
Sesampainya di rumah menjadi kaum sarungan. Pergi ke musala dengan sandal jepit kesayangan. Anak kecil ramai berdatangan, ikut sholawatan bersama takmir selesai adzan. Rabbanaa aatinaa fid dun ya hasanatan wafil aakhirati hasanatan waqinaa’adzaaban naar.

   Tegal, Januari 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Cerita dari Pendengar Pemula

  Pada mulanya pagi hari ini (17/6), saya beranjak dari indekos menuju Perpustakaan kampus. Menyempatkan mampir di Warung Tegal (Warteg) andalan untuk sarapan. Waktu demi waktu berlalu, tak terasa sudah tahun ketiga menjadi mahasiswa. Manis dan pahitnya kehidupan kampus (hampir) semua sudah pernah dirasa. Hari demi hari, tugas kuliah yang menjemukan dan kekhawatiran akan masa depan menjadi suatu hal yang menyebalkan. Mutakhir ini, ada banyak hal yang belum bisa tercapai, hingga rencana-rencana baik yang belum terlaksana. Sebagaimana lirik lagu “Gas” dari album kedua FSTVLST. Band rock lokal asal Yogyakarta itu menulis: berjalan tak seperti rencana adalah// jalan yang sudah biasa// dan jalan satu-satunya// jalani sebaik kau bisa . Rencana menulis untuk mengingat #setahunalbum2fstvlst sebenarnya tidak ada. Pertama, kurang lebih baru satu bulan saya mengenal dan mendengarkan lagu-lagu FSTVLST. Kedua, saya tidak pernah menyimak FSTVLST secara langsung di panggung. Namun, seperti ...

Solidaritas Warga Bantu Warga di Tegal: Maspur dan Ponggol Jumat Merdeka

Gerakan Maspur saat sedang melakukan kegiatan berbagi . Dok Pribadi Maspur/ Ika Mulyani Saban Selasa dan Sabtu malam, Bijak Cen Soekarno--akrab dipanggil Jaka--dan delapan anak muda lain menyusuri sudut-sudut jalanan di Kota Tegal guna “merazia” orang-orang yang kelaparan. Kegiatan berbagi nasi ini dinamakan oleh Jaka, pria 35 tahun itu, sebagai gerakan “Maspur”, kepanjangan dari Mbagi-Mbagi Sega Campur (Berbagi Nasi Campur). Dimulai pukul 22.30 WIB hingga dini hari, Jaka dan kawan-kawan melawan kantuk dan menahan dingin embusan angin di Kota Tegal untuk berbagi nasi kepada yang membutuhkan, seperti orang-orang marginal, yang hidup di jalanan, Gepeng (gelandangan dan pengemis), tukang becak, serta siapa saja yang membutuhkan makanan. Hal yang sama dilakukan oleh komunitas Paguyuban Scooterist Balapulang (PSB), salah satu komunitas Vespa di Tegal yang telah terbentuk sejak 6 Januari 2019. Enam bulan yang lalu, PSB memulai gerakan sosi...

Sulam dan Sedikit Upaya Menjaga Ketahanan Pangan

Alam Setia Budi (Sulam) sedang memanen kangkung yang dia tanam . Dok/Diki Mardiansyah             Pada mulanya Rabu siang (14/4) itu, Alam Setia Budi (27) berangkat ke ladang yang ia tanami kangkung di Desa Banjaranyar, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Kegiatan ini sudah dilakukan oleh Sulam—sapaan akrabnya—sekitar empat bulanan yang lalu. Setelah pengalaman mengatarkannya menjadi kuncen steam cuci motor dan usaha ternak lele saat masih menyandang status sebagai mahasiswa jurusan pendidikan. “Sudah sekitar empat bulanan pasca berhenti menjadi tukang steam motor di Slerok, Kecamatan Tegal Timur, Kabupaten Tegal saya kemudian sekarang menjadi petani”, kata Sulam. Alam Setia Budi (Sulam) salat zuhur di gubuk . Dok/Diki Mardiansyah Cuaca agak mendung sesampai di ladang. Sulam bergegas ke sungai kecil yang terletak di samping gubuknya untuk berwudu. Ia kemudian memakai sarung dan menggelar sajadah menunaikan salat zuh...