Seperti
bulan ramadan sebelum dan biasanya, suara tilawah Alquran terdengar indah
di tiap penjuru masjid dan musala. Pagi, sore, bahkan sampai larut malam
datang, suara itu selalu terdengar syahdu dan merdu. Membaca Alquran
bersama-sama dengan duduk tumaninah,
menyimak Alquran sambil menunggu giliran membaca datang: dalam dekapan iman
menguatkan tali persaudaraan. Semoga kita mendapatkan ampunan atas dosa dan
kesalahan yang pernah kita lakukan.
Kegiatan membaca Alquran bersama-sama
ini, lebih populer dikenal dengan nama tadarus/tadarusan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tadarus adalah pembacaan Alquran
secara bersama-sama (dalam bulan puasa). Sedangkan menurut saya sendiri,
tadarus adalah pembacaan Alquran yang dilakukan secara bersama-sama. Dengan
bimbingan orang yang lebih tua atau orang yang lebih mengerti ilmu Alquran.
Kegiatan ini sangat bermanfaat, terutama
bagi kita yang sedikit malas membaca Alquran di rumah sendirian. Bulan ramadan, bulan Alquran. Bulan
di mana Alquran karim diturunkan tanggal 17 Ramadan di Goa Hira di atas Jabal
Nur, sebelah utara kota Makkah. Turunlah Surah Al-Alaq ayat 1-5:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu
yang menciptakan, Dia telah mencipatakan manusia dari segumpal darah, Bacalah
dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajarkan (manusia) dengan pena, Dia
mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Setelah salat asar selesai ditunaikan.
Seperti biasa, tanpa ada pengumuman dan tanpa ada pembagian surat undangan.
Mereka (anak-anak) datang beramai-ramai dengan tangan yang membawa mushaf
Alquran, berebut untuk membaca urutan paling pertama. Sesekali mereka tertawa
kecil, sebab pembicaraan yang tidak terlalu penting. Terkadang, setelah mereka
selesai mendapatkan giliran, untuk menghibur diri dan keluar dari kebosanan,
mereka menutup mushaf Alquran dan berlarian merebut pecinya yang diambil teman
di sebelahnya. Itulah anak kecil yang kesehariannya tidak jauh dari dunia permainan.
Ini indah, lebih indah dari keramaian
orang-orang yang berlalu lalang di jalanan untuk sekadar ngabuburit menunggu
adzan maghrib. Ini indah, akan segera datang rindu suasana bahagia seperti ini
ketika ramadan datang tapi diri berada di kampung perantauan.
Semoga mereka bisa terus berada dalam kegiatan seperti ini di tengah keadaan yang
sudah semuanya bertujuan kesenangan duniawi. Mari berikhtiar agar perjumpaan
dengan ramadan tahun ini lebih baik daripada perjumpaan ramadan di tahun sebelumnya.
Desa
Banjaranyar, 26 Mei 2018 (10 hari Ramadan)

Komentar
Posting Komentar