Langsung ke konten utama

Fajar Subuh Awal Ramadan 1439 Hijriah



Pagi dingin menyentuh kalbu itu, tak seperti pagi-pagi sebelumnya. Pagi yang masih diselimuti awan kegelapan, yang sebentar lagi disinari terang benderang cahaya fajar kemerah-merahan. Pagi yang penuh sesak antrean, beramai-ramai berdesakan orang-orang berdatangan ke surau tua. Dalam keadaan kenyang yang di siang hari akan berganti dengan haus dan lapar. Dengan niat dalam hatinya, memohon ampunan untuk menggapai ketakwaan.
“Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al-Baqarah ayat 183).
Subuh syahdu itu, tak seperti subuh syahdu sebelumnya. Orang tua, dewasa, remaja, anak-anak kecil penuh ramai dalam upaya memenuhi panggilan-Nya. Datang dengan sarung yang masih belum dipakai dan sesekali menguap, anak kecil berumur tujuh tahun bercerita tentang lauk pertama sahurnya. Dengan kompak tanpa perbedaan, mereka sepakat untuk menyebut ayam goreng dan ayam bakar yang dibeli di Tegongan Desa Banjaranyar.
Setelah yang fardu ditunaikan, mereka keluar dengan penuh kegembiraan. Dengan tak lupa berdoa sebelum keluar musala. Mereka berdoa: “Ya Allah, semoga kami bisa kuat berpuasa sampai beduk magrib tiba, tidak seperti puasa tahun sebelumnya yang hanya kuat ketika beduk zuhur dibunyikan.  Amin!”. Setelah itu, mereka berlari cekikikan di jalanan selepas doanya dipanjatkan.
Selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon puasa lahir dan batin. Mari berusaha puasakan hati dan pikiran kita, mata dan mulut kita, telinga dan hidung kita, serta tangan dan kaki kita. Jangan hanya berpuasa untuk menahan haus dan lapar saja.

Desa Banjaranyar, 17 Mei 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Cerita dari Pendengar Pemula

  Pada mulanya pagi hari ini (17/6), saya beranjak dari indekos menuju Perpustakaan kampus. Menyempatkan mampir di Warung Tegal (Warteg) andalan untuk sarapan. Waktu demi waktu berlalu, tak terasa sudah tahun ketiga menjadi mahasiswa. Manis dan pahitnya kehidupan kampus (hampir) semua sudah pernah dirasa. Hari demi hari, tugas kuliah yang menjemukan dan kekhawatiran akan masa depan menjadi suatu hal yang menyebalkan. Mutakhir ini, ada banyak hal yang belum bisa tercapai, hingga rencana-rencana baik yang belum terlaksana. Sebagaimana lirik lagu “Gas” dari album kedua FSTVLST. Band rock lokal asal Yogyakarta itu menulis: berjalan tak seperti rencana adalah// jalan yang sudah biasa// dan jalan satu-satunya// jalani sebaik kau bisa . Rencana menulis untuk mengingat #setahunalbum2fstvlst sebenarnya tidak ada. Pertama, kurang lebih baru satu bulan saya mengenal dan mendengarkan lagu-lagu FSTVLST. Kedua, saya tidak pernah menyimak FSTVLST secara langsung di panggung. Namun, seperti ...

Solidaritas Warga Bantu Warga di Tegal: Maspur dan Ponggol Jumat Merdeka

Gerakan Maspur saat sedang melakukan kegiatan berbagi . Dok Pribadi Maspur/ Ika Mulyani Saban Selasa dan Sabtu malam, Bijak Cen Soekarno--akrab dipanggil Jaka--dan delapan anak muda lain menyusuri sudut-sudut jalanan di Kota Tegal guna “merazia” orang-orang yang kelaparan. Kegiatan berbagi nasi ini dinamakan oleh Jaka, pria 35 tahun itu, sebagai gerakan “Maspur”, kepanjangan dari Mbagi-Mbagi Sega Campur (Berbagi Nasi Campur). Dimulai pukul 22.30 WIB hingga dini hari, Jaka dan kawan-kawan melawan kantuk dan menahan dingin embusan angin di Kota Tegal untuk berbagi nasi kepada yang membutuhkan, seperti orang-orang marginal, yang hidup di jalanan, Gepeng (gelandangan dan pengemis), tukang becak, serta siapa saja yang membutuhkan makanan. Hal yang sama dilakukan oleh komunitas Paguyuban Scooterist Balapulang (PSB), salah satu komunitas Vespa di Tegal yang telah terbentuk sejak 6 Januari 2019. Enam bulan yang lalu, PSB memulai gerakan sosi...

Sulam dan Sedikit Upaya Menjaga Ketahanan Pangan

Alam Setia Budi (Sulam) sedang memanen kangkung yang dia tanam . Dok/Diki Mardiansyah             Pada mulanya Rabu siang (14/4) itu, Alam Setia Budi (27) berangkat ke ladang yang ia tanami kangkung di Desa Banjaranyar, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Kegiatan ini sudah dilakukan oleh Sulam—sapaan akrabnya—sekitar empat bulanan yang lalu. Setelah pengalaman mengatarkannya menjadi kuncen steam cuci motor dan usaha ternak lele saat masih menyandang status sebagai mahasiswa jurusan pendidikan. “Sudah sekitar empat bulanan pasca berhenti menjadi tukang steam motor di Slerok, Kecamatan Tegal Timur, Kabupaten Tegal saya kemudian sekarang menjadi petani”, kata Sulam. Alam Setia Budi (Sulam) salat zuhur di gubuk . Dok/Diki Mardiansyah Cuaca agak mendung sesampai di ladang. Sulam bergegas ke sungai kecil yang terletak di samping gubuknya untuk berwudu. Ia kemudian memakai sarung dan menggelar sajadah menunaikan salat zuh...