Pagi dingin menyentuh kalbu itu, tak
seperti pagi-pagi sebelumnya. Pagi yang masih diselimuti awan kegelapan, yang
sebentar lagi disinari terang benderang cahaya fajar kemerah-merahan. Pagi yang
penuh sesak antrean, beramai-ramai berdesakan orang-orang berdatangan ke surau tua. Dalam keadaan kenyang yang di siang hari akan berganti dengan haus
dan lapar. Dengan niat dalam hatinya, memohon ampunan untuk menggapai ketakwaan.
“Hai orang-orang yang beriman!
Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu agar kamu bertakwa” (Al-Baqarah ayat 183).
Subuh syahdu itu, tak seperti subuh syahdu
sebelumnya. Orang tua, dewasa, remaja, anak-anak kecil penuh ramai dalam upaya
memenuhi panggilan-Nya. Datang dengan sarung yang masih belum dipakai dan
sesekali menguap, anak kecil berumur tujuh tahun bercerita tentang lauk pertama
sahurnya. Dengan kompak tanpa perbedaan, mereka sepakat untuk menyebut ayam
goreng dan ayam bakar yang dibeli di Tegongan Desa Banjaranyar.
Setelah yang fardu ditunaikan, mereka
keluar dengan penuh kegembiraan. Dengan tak lupa berdoa sebelum keluar musala.
Mereka berdoa: “Ya Allah, semoga kami bisa kuat berpuasa sampai beduk magrib
tiba, tidak seperti puasa tahun sebelumnya yang hanya kuat ketika beduk zuhur
dibunyikan. Amin!”. Setelah itu, mereka berlari cekikikan di jalanan selepas doanya
dipanjatkan.
Selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon
puasa lahir dan batin. Mari berusaha puasakan hati dan pikiran kita, mata dan
mulut kita, telinga dan hidung kita, serta tangan dan kaki kita. Jangan hanya
berpuasa untuk menahan haus dan lapar saja.
Desa
Banjaranyar, 17 Mei 2018

Komentar
Posting Komentar