“Masing-masing sudah terseret kepentingannya
sendiri-sendiri atau tersihir kemewahan duniawi?” Begitulah kiranya pertanyaan
ini sering muncul saat semua tak seperti biasanya. Saat di mana setiap hari
adalah bayangan hari esok: PR yang terkadang dikerjakan di sekolah, tugas
individu yang terkadang dikerjakan bersama-sama, atau mungkin ketakutan
terhadap mata pelajaran yang tak menjadi kesukaan.
Mei 2018 itu, mungkin menjadi ujian terakhir selama tiga tahun belajar dan menuntut ilmu
di tingkat SMA. Tetapi, tetap saja dalam hati kecil ini berkata bahwa masih banyak lagi
ujian-ujian yang lebih berat berikutnya. Ada yang berjuang dengan belajar
(lagi) membuka buku pelajaran, demi melanjutkan mimpi masuk perguruan tinggi.
Ada yang lebih hebat dari itu, dialah yang bangun
lebih pagi dari biasanya, seraya memohon doa agar diberikan pekerjaan yang halal
baginya. Bayangkan saja, di saat banyak anak-anak melanjutkan kuliah dengan biaya orang tuanya. Dia justru berniat bekerja dengan penuh bangga supaya
bisa menambah biaya untuk berobat ibunya. Mulia sekali.
“Bekerjalah,
karena harga diri laki-laki adalah dengan bekerja dan bekerja adalah hal yang
mulia”, ujar Pramoedya Ananta Toer. Kemudian terlintas dalam hati kecil saya, untuk
berkata: "bekerja, belajar, dan berkarya bersama hati, insya Allah semua akan
berarti, Dik."
Di
tengah perbincangan terakhir bersama sahabat atau kawan-kawan kita sesama SMA.
Tentu kita berpesan agar tak saling melupakan. Jika sudah berhasil, jangan
tengil. Jika sudah sukses, jangan hanya berkabar lewat SMS. Jika merasa kecewa, jangan lupa kita pernah tertawa bersama. Jika sedih, jangan lupa kita sudah berjuang dengan gigih. Jika bahagia, jangan lupa bahagia yang
sekadarnya saja. Sebab, bahagia tak selalu ada dan perlu diingat bahwa senang itu hanya sementara.
Dunia
perantauan sudah sampai di pelupuk mata. Kesunyian dan kesederhanaan kehidupan desa tercinta tak akan lagi terasa hingga datang masanya
tiba. Seberat dan sepahit apa pun dunia perantauan harus kita hadapi, seperti
nasihat Imam Syafi’i: “Merantaulah. Orang
yang berilmu dan beradab, tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan kampung
halamanmu dan merantaulah!”
Mau tidak mau, dunia ini akan segera berubah. Tahun demi tahun berlalu, orang-orang gampang sekali melupakan kenangan. Gus Mus pernah berkata, "Mereka lupa, bahwa ketika mereka mengatakan kepadaku: Lupakanlah dia! Mereka
justru mengingatkanku kepadanya.”
Kita
yang masih sia-sia, semoga kelak menjadi generasi yang lebih bermakna. Selamat berproses dan berjuang
untuk menggapai cita-cita mulia dengan bekerja atau berkuliah kawan-kawanku semua.
Mari bersama menjadi: muda, berbeda, dan mendunia. Dengan kesederhanaan semoga
sanggup menerjang kerasnya peradaban, dalam kesederhanaan ini semoga keberkahan
selalu menghampiri.
Desa Banjaranyar, 29
Juli 2018
Komentar
Posting Komentar