“Masing-masing sudah terseret kepentingannya sendiri-sendiri atau tersihir kemewahan duniawi?” Begitulah kiranya pertanyaan ini sering muncul saat semua tak seperti biasanya. Saat di mana setiap hari adalah bayangan hari esok: PR yang terkadang dikerjakan di sekolah, tugas individu yang terkadang dikerjakan bersama-sama, atau mungkin ketakutan terhadap mata pelajaran yang tak menjadi kesukaan. Mei 2018 itu, mungkin menjadi ujian terakhir selama tiga tahun belajar dan menuntut ilmu di tingkat SMA. Tetapi, tetap saja dalam hati kecil ini berkata bahwa masih banyak lagi ujian-ujian yang lebih berat berikutnya. Ada yang berjuang dengan belajar (lagi) membuka buku pelajaran, demi melanjutkan mimpi masuk perguruan tinggi. Ada yang lebih hebat dari itu, dialah yang bangun lebih pagi dari biasanya, seraya memohon doa agar diberikan pekerjaan yang halal baginya. Bayangkan saja, di saat banyak anak-anak melanjutkan kuliah dengan biaya orang tuanya. Dia justru berniat...
Menulis hari ini, mengingat selamanya.